
Bapak Adrianus Patiung dari Direktorat SMK dan Ibu Nurul Huda dari Oracle Academy sepakat pada satu hal: di dunia IT, ijazah saja tidak cukup.
Bayangkan sertifikasi industri (seperti dari Oracle) sebagai sebuah "Global Passport". Saat Anda memegangnya, sekat antara lulusan daerah dan talenta di Silicon Valley seketika runtuh. Industri teknologi global tidak peduli dari mana asal sekolahmu. Mereka hanya bertanya: "Apa yang bisa tanganmu ciptakan?"
"Pergi belajar menjemput masa depan... Sertifikasi bukan sekedar lembaran, namun bekal kompetensi untuk melangkah tepat." — Adrianus Patiung.

Di era di mana AI bisa menulis kode dalam hitungan detik, masih perlukah kita belajar coding? Jawabannya: Sangat perlu!
Ibu Nurul Huda mengingatkan, AI hanyalah copilot. Pilotnya tetap manusia. Jika kita hanya jadi code copier tanpa paham logika dasarnya (seperti Java atau SQL), kita akan mudah digantikan mesin.
Oracle Academy membantu murid belajar logika dengan cara asyik: main animasi 3D lewat Alice, bikin game di Greenfoot, atau bangun aplikasi web kilat dengan Oracle APEX. Kuncinya: Kuasai logikanya, maka AI akan tunduk padamu.

Bagi sebagian murid, PKL (Praktik Kerja Lapangan) mungkin dianggap beban. Tapi bagi Yusef Muhammad Zazuli, ini adalah jalan pintas menuju sukses.
Yusef memulai dari nol saat PKL. Namun berkat ketekunannya, ia kini dipercaya menjadi Lead Scraper Engineer di PT IBID Teknologi. Bayangkan, ia menangani Big Data raksasa dan teknologi database modern sebelum teman-teman seusianya wisuda sarjana. Ijazah belum keluar, tapi kontrak kerja profesional sudah di tangan.

Renata Ramadiandra adalah bukti bahwa sukses butuh nyali. Di usia 16 tahun, ia berani merantau ke Jakarta sendirian demi PKL.
Rutinitasnya bukan untuk yang bermental lembek: bekerja sebagai Fullstack Developer dari jam 10 pagi sampai 7 malam, lalu lanjut kuliah kelas karyawan hingga larut. Semua biayanya? Ia tanggung sendiri. Kedisiplinan inilah—yang sering disebut sebagai grit—yang membedakan talenta biasa dengan talenta istimewa.
"Ambil kesempatan sekecil apa pun... Karena itu bisa jadi pintu yang kalian bangun sendiri untuk masa depan." — Renata Ramadiandra

Masih berpikir dunia engineer cuma buat laki-laki? Indah Widowati mematahkan anggapan kuno itu.
Sebagai alumni SMK yang kini menjadi Woman Techmaker Ambassador, Indah membuktikan bahwa perempuan punya tempat istimewa di dunia IT. Sertifikasi Oracle yang ia ambil saat sekolah menjadi "senjata" andalannya menembus berbagai perusahaan, dari startup hingga korporat.
"Skill tidak punya gender. Kalau saya bisa dari SMK dan ada sampai saat ini, kalian juga bisa." — Indah Widowati
Ingin mencetak generasi tangguh seperti Renata, Yusef, dan Indah? Sekolah Bapak/Ibu bisa memanfaatkan fasilitas dari Oracle Academy secara GRATIS.
Ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan kurikulum internasional, pelatihan guru, hingga akses software kelas dunia.
Daftarkan Sekolah Anda: Cukup kunjungi

Tips: Gunakan email resmi sekolah (@sch.id atau @belajar.id) agar proses verifikasi lebih cepat.
Masa depan digital Indonesia ada di tangan anak-anak SMK yang berani bermimpi dan tak lelah belajar. Jadi, seberapa jauh kamu berani melangkah hari ini?
